“Tau’ majung tau’ nengkalung, tau’ nyimpai tau’ nyentagai, tau nyangkit tau ngait, tau ngebat tau’ nyikat. Padi kami suruh nyadi rumput suruh mati, padi tumbuh rumput mansuh, padi besae rumput parae” Penggalan lantunan bait-bait yang meluncur dari bibir Apai Janggut (70 th) menyudahi acara Basuk Arang malam itu di Menua Sungai Utik, sebuah kampung di Kabupaten Kapuas Hulu Kalbar. Ritual ladang yang dilakukan setelah habis masa Nugal tersebut biasa dilaksanakan setelah seluruh proses menugal selesai.
Berladang bagi masyarakat adat Dayak bukanlah sekedar kegiatan rutin setiap tahun, bagi mereka, berladang adalah cerminan hidup. Hal ini terlihat jika kita mengikuti satu siklus berladang mereka selama satu tahun, hampir seluruh waktunya mereka habiskan di ladang. Dari sana kita akan menyaksikan bahwa, berladang bukan hanya sekedar tebas-tebang dan tanam-tuai, tapi mereka mempertaruhkan kelangsungan kehidupan mereka dengan berladang. Oleh karena itu, muncul banyak sekali kearifan,pengetahuan lokal, dan prosesi kehidupan yang hakiki dari proses yang sejak dulu dianggap Pemerintah sebagai kehidupan liar dan terbelakang.
Kearifan tersebutlah yang ditemukan dalam ritual Basuk Arang (membasuh bekas arang) di masyarakat Iban. Ritual ini sesungguhnya dimulai ketika ladang selesai dibakar, dan Manggul yakni sebuah ritual memanjatkan doa kepada Petara (Tuhan) agar ladang diberi kesuburan dan kelimpahan hasil. Setelah Manggul selesai dilaksanakan, maka dimulai sebuah masa,di mana setiap orang harus berpantang untuk melakukan hal-hal yang telah digariskan atau dilarang oleh adat.
Larangan selama masa nugal yang hingga kini masih dipraktekan oleh Orang Iban di antaranya; Menebang kayu besar di hutan (Nengkalung); Membuat Simpai (gelang dari rotan); Mengukir gagang parang (Ngawit); Menempa Besi (Ngambuh-Nyempuh); dan dan larangan khusus bagi perempuan adalah; menenun serta menyulam (ngebat-ngikat); menganyam (ngebat-nyikat). Bagi kaum Pria dilarang untuk mencukur kumis serta Jenggot selama pantangan. Selain itu dilarang menarik Rotan melewati ladang dan menebang kayu menimpa ladang.
Larangan untuk menebang pepohonan besar di hutan dan berbagai larangan lainnya, akan berlaku hingga musim nugal berakhir yang ditandai dengan melakukan ritual Basuk Arang. Jika ada anggota masyarakat yang melanggar dan ketahuan oleh anggota masyarakat lain, maka yang bersangkutan terkena hukum adat Penti Pemali berupa : (a) Manok siko, (b) Duko site (c) Pinggae Sesingkap (d) karong Kerubong mungkol 5 (Rp.5000,-). Aturan yang kelihatannya memberatkan ini bagi orang luar pasti sulit diikuti, namun bagi orang Iban hal tersebut lakukan bukan semata-mata menghindari sanksi adat, tetapi menurut kepercayaan yang berlaku di sana jika pantangan ini dilanggar akan berdampak pada hasil ladang.
Setelah melewati masa pantangan, maka semua orang Iban dengan bersuka cita melakukan ritual Basuk Arang, perlambang masa pantang sudah berakhir. Acara Basuk Arang pelaksanaannya terbagi menjadi beberapa kelompok sesuai group berladangnya yang disebut Bedurok. Setiap kelompok Bedurok berusaha memeriahkan acara lepas pantang tersebut dengan pergi ke hutan untuk berburu, dan perempuan menyiapkan tuak sebagai wujud suka-citanya.
Acara Basuk Arang biasanya dilaksanakan pada malam hari ketika semua anggota Bedurok hadir, dan biasanya kelompok lain juga akan diundang untuk makan malam bersama. Sebelum makan bersama, ritual Basuk Arangpun dimulai,semua peralatan menugal berupa tongkat kayu (tugal), parang, pakaian dan sebagainya dikumpulkan dan dibasuh dengan air dalam sebuah mangkok kecil yang telah dicampur berbagai sesajen. Ketua kelompok memulai ritual dengan membacakan mantera dan bait-bait sebagai ucapan syukur dan doapermohonan berkat atas keselamatan serta hasil panen yang berlimpah dalam bahasa Iban. Sesudah itu, semua anggota kelompok Bedurok akan berbaris untuk mencuci tangan dan kaki sebagai symbol mereka sudah terbebas pantang, dan arang bekas ladangpun terbuang sudah. Setelah itu,masing-masing anggota menggosokan tangan ke dinding dan berucap; seperti rapatnya dinding ini, seperti itulah pohon padi diladang kami.
Ritual Basuk Arang disudahi dengan makan bersama,sambil mencicipi tuak yang sudah disediakan. Basuk Arang hingga kini terus dipraktekan Dayak Iban di Sungai Utik, dan bagi mereka hal ini bukan rutinitas,ini adalah aktualisasi kehidupan yang beralaskan kearifan. Karena mereka bukan liar, mereka bukan peladang berpindah.





